Pada suatu masa, ada seekor 'Monyet' yg memiliki bulu yang berwarna hitam kegelapan yang sangat pekat dan kental. Monyet tersebut selalu sendirian sedari dulu. Tak ada satupun yang ingin mendekati dan menemaninya. Bahkan saya sejenisnyapun selalu memandang rendah dirinya yang berbeda itu. Dari fisiknya yang ‘bermata besar’, berekor panjang, dan berbulu hitam gelap, sedangkan monyet-monyet yang lain hanya berwarnya coklat, dan bila ada yang berwarna hitam, mereka tidak sehitam dan segelap miliknya. Mungkin di sini terjadi sebuah diskriminasi terhadapnya yang ‘berbeda dari yang lain’.
Pada akhirnyapun monyet tersebut mencoba menghibur dirinya sendiri dan berusaha mencari perhatian agar mahkluk di sekelilingnya ‘menganggap keberadaannya’. Tapi cara dan jalan yang monyet itu ambil ternyata di anggap salah oleh mahkluk di sekitarnya. Monyet itu di anggap sebagai penggangu, sebagai pecundang, dan di anggap sebagai sampah yang suka membuat masalah. Monyet itupun jatuh makin dalam di dalam kesendiriannya, begitu pula dengan warna bulunya semakin menghitam seiring waktu berjalan.
Pada suatu hari, monyet tersebut sudah tak betah di ‘pohon’ yang ia tempati. Dia pun ‘memutuskan’ untuk ‘berpindah pohon’. Saat berpindah pohon dia ‘bertemu’ dengan sekawanan mahkluk ‘hutan’. Di sana dia bertemu dengan beberapa mahkluk yang dia kenal seperti ‘Kambing’, ‘Cancorang’, ‘Gajah’, ‘Cicak’ dan beberapa lagi diantaranya. Pada saat ingin memanjat ke atas pohon dia pun melihat seekor ‘Kodok’ yang berada ‘disamping’ cicak dengan wajah takut. Tetapi dia sudah biasa untuk menerima tatapan seperti apapun.
Sudah cukup lama monyet tersebut berada di pohon tersebut, dia pun merasa sedikit nyaman. Di sana dia sering di datangin oleh kambing dan cancorang. Akhirnyapun dia mendapatkan teman bermain.
Akan tetapi monyet tersebut masih merasa kesepian, karena dia belum sepenuhnya yakin dengan teman-temannya. Monyet tersebut masih takut kalau suatu saat dia akan di manfaatkan dan dikhianati seperti yang pernah di alaminya. Karena itu dia pun masih ingin ada seseorang yang dapat mengerti betul akan dirinya dan tidak akan mengkhianatinya.
Di suatu saat, kodok melihat ternyata monyet tidak seseram penampilanya, dia pun mendekasi monyet, bercanda dan mengobrol. Akan tetapi monyet tetap memiliki reaksi yang banyak dari sikap bersahabat si kodok. Itu karena masa-masa yang di lalui monyet terlalu suram dan menyakitkan. Monyet yang tidak pernah ingin melukai seseorang, selalu ingin berteman, dan selalu diingat oleh mahkluk di sekitarnyapun harus mengalami semua yang berada di luar jangkauan harapannya dan keinginannya yang baik itu. Monyet yang telah mengalami berbagai hal dalam hidupnya dan menerima berbagai hal agar dia dapat berteman, semua sudah tak bisa di ingat lagi olehnya, karena terlalu banyak yang di alami oleh monyet, dari hal baik sampai hal yang buruk. Semua demi mendapatkan seseorang yang dapat berteman dan menemaninya.
Beberapa masa sudah lewat, kodok pun sering mengajak monyet bercanda dan mengobrol, dan monyetpun mencoba begitu dengan kodok. Lambat launpun mereka menjadi dekat, dan kambing, cancorang, dan ada juga ‘Kancil’ dan ‘Gorilla’ yang sering mengajaknya bermain.
Seiring waktu berjalan, tak disangka ternyata monyet dan kodok pun menjadi sangat dekat, mahkluk di sekitarpun menjadi heran. Dan mulai tersebar berita yang tak mengenakkan tentang mereka. Para mahkluk hutan yang mengenal merekapun akhirnya bertanya kepada mereka, kodokpun bingung harus menjawab apa, karena dia tak tahu harus bagaimana terhadap mahkluk hutan lainnya dan terhadap monyet. Tapi monyet dengan tegas mengatakan bahwa mereka ‘berteman’.
Semenjak saat itu, monyet dan kodok jadi lebih sering mengobrol, bermain dan bercanda. Monyet merasa bahwa kodok tak akan mengkhianatinya dan kodok mengerti akan dirinya. Monyet menemukan setitik cahaya dalam hidupnya. Dia tak lagi sendirian.
Seiring bejalannya waktu yang terus berputar, tak terasa bahwa mereka telah banyak melalui banyak hal bersama. Terlebih bagi monyet, dia mendapati bahwa dirinya telah sangat dekat dengan apa yang diinginkannya, yaiitu dianggap oleh mahkluk yang lain. Monyet mendapatkan banyak teman, Kambing, Cancorang, Gorilla, Gajah, Cicak dan Kancil pun telah menjadi sahabatnya yang selalu baik padanya. Dan tak di sangka monyet yang telah mendapatkan secercah cahaya dalam hidupnya membawa pengaruh terhadap warna bulunya, sekarang warna bulunya menjadi lebih terang.
Tak terasa waktu begitu cepat berputar, dan monyetpun semakin lama semakin merasa di atas awan dan semakin lupa daratan. Monyet membuat kesalahan yang fatal. Kodok yang selama ini selalu bersamanya tak tahu harus sedih ataupun marah, karena teman yang ia ‘sayangi’ telah berbuat kesalahan yang membuat dia terkena imbasnya.
Setelah masalah itu selesai dengan cara dan akhir yang tak mengenakan, akhirnya kodok memaafkan monyet. Merekapun ‘bersama’ lagi. Tetapi ternyata itu semua hanyalah menjadi awal dari masalah-masalah yang dating berikutnya.
Seiring berjalannya waktu, beriringan pula dengan masalah yang terus mendatangi mereka, dan tanpa di sadari warna bulu monyet perlahan kembali menghitam dan menggelap. Dan pada akhirnya kodok pun ‘memutuskan’ untuk ‘meninggalkan’ monyet.
Monyet pun merasa sangat bersalah dan sedih atas keputusan kodok untuk meninggalkannya. Karena masalah yang timbul selalu di pacu oleh monyet, jadi karena itu monyet menjadi merasa bersalah kedapa kodok. Tetapi kodok sudah tak mau lagi melihat monyet.
Pada akhirnyapun monyet memilih untuk berubah dan mencoba kembali ke kehidupanya yang dulu.
-The End-
Pesan:
-kita haruslah bersukur atas apa yang telah kita dapatkan, jangan terlalu haus, sehingga membuat kita lupa daratan, karena itu akan menjadi bumerang bagi kita suatu saat.
0 Responses to Cerita Monyet Hitam
Posting Komentar